Rasanya Jatuh Cinta

Rasanya Jatuh Cinta

Sedang hujan di luar, so... why not to write about something romance while my curiosity at its peak right now?

Masih inget, nggak, rasanya jatuh cinta? Jatuh cinta terhadap sesuatu—entah itu seseorang, aktivitas, benda atau bahkan terhadap kehidupan itu sendiri. Oh, romansa...

But hey, romance is not always about people, you know? Kadang aku heran mengapa kata romansa selalu instan ditautkan dengan dua manusia yang saling bercinta. Padahal, ia juga bisa diaplikasikan terhadap kehidupan itu sendiri. Dan sejujurnya, inilah kenapa aku suka sekali dengan romansa pada umumnya. Karena ia bukan hanya tentang manusia.

Dipikir-pikir jatuh cinta itu sangat menghidupkan kehidupan itu sendiri, ya? Semuanya terasa menjadi lebih berwarna. Mungkin karena jantung berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya ketika memikirkan dan merasakannya, sehingga semua indra menjadi begitu sensitif terhadap segala hal tentangnya. Seakan jiwa dan raga mengirimkan energinya kepada semesta. Hal sekecil apa pun tentang hal yang kita cintai rasanya mudah sekali untuk diingat, dan rasanya akan sukar untuk dilupakan. Yang ada ia hanya akan makin menggema ke sekujur tubuh.

Kapan terakhir kali kalian merasakan perasaan ini? Gut feeling yang muncul bertubi-tubi, dan anehnya ia selalu bisa dirasakan dan dipahami walaupun tanpa penjelasan yang logis sekali pun. Dan entah kenapa setiap momennya begitu selaras dan terhubung satu sama lain. Semesta juga seakan ikut mengiyakan dengan mengirimkan sinyalnya—entah melalui mimpi atau kesempatan "bertemu" yang begitu kecil jika dipikir-pikir. Aneh saja bagaimana dunia bisa menyatukan dua jiwa yang benar-benar terpisah tapi saling beresonansi antara satu sama lain.

Aku ingat betul rasanya jatuh cinta. Ketika aku jatuh cinta pertama kali dengan fotografi. Fokus meningkat. Momen menjadi begitu terasa lambat dan yang terasa hanya detak jantung yang semakin kencang di setiap milisecond-nya. Reaksiku hanya, "Woah... gini rasanya?" dan melanjutkan momen dengan senyum yang begitu lebar dengan mata berbinar. Hembusan napas begitu lega karena sedari tadi menahan napas yang cukup lama.

Atau jangan bilang kalian sudah lupa rasanya jatuh cinta?

Ok let's say kalian jatuh cinta dengan kehidupan, sudah pasti otomatis kamu akan meromantisasi segala hal yang terjadi di setiap harinya, dan tentu punya level of awareness yang lebih dari kebanyakan orang pada umumnya. Bahkan semut di depan kakimu sedang berjalan ke arahmu, kamu tau. Apalagi kicauan burung, bentuk awan yang begitu unik, sinar matahari yang menyelinap dari dedaunan dan menyentuh kulit, hembusan angin yang merdu, deru ombak yang begitu asyik di telinga. Sudah pasti kamu akan merasakannya. Bahkan tidak ada celah untuk memikirkan hal negatif karena terlalu sibuk dengan energi positif yang kamu rasakan di sekitarmu.

Apalagi? Cinta dengan diri sendiri? Berarti otomatis kamu akan menjaga tubuhmu dengan baik. Olahraga, makan-makanan yang bernutrisi, tidur yang cukup. Kadang saking cintanya dengan diri sendiri, ketika jatuh cinta dengan seseorang, kamu jatuh cinta pada pantulan dirimu yang ada dalam dirinya. Menjadikannya 0 attachment dalam mencintai. Sehingga kalau pun jika kalian tidak ditakdirkan, kalian masih punya pantulan diri kalian yang ada dalam beribu orang lainnya.

Nah, jika sudah tau rasanya jatuh cinta...

Maka, hati-hati dalam mencintai sesuatu. Karena biasanya... kebanyakan orang akan rush-in, dan punya obsesi untuk memiliki hal yang ia cintai. Sebetulnya hal ini bisa menjadi positif tergantung perspektif, tapi intuisiku bilang kebanyakan akan menjadi negatif. Terutama obsesi untuk memiliki, mendengarnya saja sudah membuatku muak. Karena sejatinya kamu tidak akan pernah betul-betul memiliki sesuatu, hidup atau mati. Tubuhmu saja bukan punyamu.

Balik lagi, segala hal yang berlebihan itu tidak baik. Walaupun sebetulnya dalam hati berkata: "Oh, my love… I want you so badly. Completely. Entirely mine. And I’m yours, I’m yours…"


Aku punya kebiasaan untuk menunda sesuatu. Delaying things seakan sudah mengalir secara natural dalam darahku. Apa pun ku-delay. Bahkan tulisan ini dan banyak karyaku lainnya. Dan, ya, mereka menumpuk di drafts. Saat aku memikirkannya, hal itu membuatku hidup, dan hanya akan kurilis saat yearning the moment aja. Basically, post to yearn, hahaha...

Asal kalian tau aja, kecilanku dulu, gendong tas ke mana-mana yang isinya penuh uang lembaran dari hasil sangu sekolah yang kukumpulkan sekian lama. Entah kenapa si anak kecil ini nggak ada keinginan sama sekali gitu untuk memakai uangnya jajan seperti anak pada umumnya. Aku punya kesenangan tersendiri aja gitu mengumpulkan sesuatu, lalu nantinya digunakan pada saat momen yang pas. Kayak makan snack waktu nonton misalnya. Inilah kenapa aku jarang banget jajan gedenya. Jadi kalau aku jajan berarti konsepnya makan. Ini termasuk delayed gratification, yang mana bagus, terlebih aku mendapatkannya secara natural sewaktu kecil dan terbawa sampai sekarang.

Delaying things membantuku membedakan, mana hal yang benar-benar aku inginkan dan mana yang hanya keinginan sesaat saja. Atau bisa jadi karena biar dilihat oleh orang lain aja.

Karena tau sendiri, kan? Ada orang yang melakukan sesuatu hanya karena ingin dilihat oleh orang lain, bukan karena memang dianya yang benar-benar menginginkannya.


Balik lagi, begitulah cinta, jika dia di-rush akan terasa sesak nantinya, dan tidak ada ruang untuk ia bisa bertumbuh. Maka beri jarak dan ruang supaya ia bisa bernapas dengan baik, menjadikan akarnya bertumbuh kuat dan bertahan lama. Yearn.

Aku suka sekali dengan langit, tapi tidak mungkin, kan, aku mengisi seluruh tubuh ini dengan langit. Aku ingin juga tentang diriku ada di sana. Bersamanya. Aku tidak ingin menghilangkan bagian diriku hanya untuk mencintaimu. Karena aku ingin bersamamu. (Even tho I'm the type of person that will do that honestly). Kayak, "Fill me up with everything about you until I’m drowning in it. I’m very much okay with it. At least I’ll die with your love." Hahaha... si kontradiksi berjalan berulah.

Di saat kebanyakan orang ketika jatuh cinta sangat terobsesi ingin memiliki, aku justru sebaliknya. 

Let's say aku jatuh cinta dengan seekor burung, tentu aku tidak ingin mengurungnya. Aku ingin melihatnya terbang bebas mengepakkan sayapnya dan menyaksikan sejauh mana ia akan terbang dan kembali kepadaku. Karena aku percaya dia akan kembali, maka aku tidak akan khawatir akan kehilangannya. Aku percaya dia bisa menjaga dirinya dengan baik sampai kembali lagi kepadaku. Aku. Percaya. Karena kalau kamu percaya sebesar itu pada sesuatu, kamu tidak akan mengkhawatirkan apa pun tentangnya.

Entahlah, rasanya tidak akan pernah habis aku berbicara tentang segala hal yang berbau romansa. Dan s ejujurnya, masih banyak sekali drafts dari judul yang satu ini, kapan-kapan kusambung. Sekarang sudah jam 23:48, dan aku harus segera posting tulisan ini sebelum jam 24:00, kalau tidak, it'll be just another drafts, ugh.

Sweet dreams to you guys who are in love <3

Minimnya Pionir dalam Ranah Fotografi Indonesia

Minimnya Pionir di Ranah Fotografi Indonesia

Belakangan jiwa kreatifku lagi kebakar banget, terinspirasi dengan 1 anak random yang nggak sengaja lewat di beranda YouTube. Kontennya POV Street Photography, tapi beda banget sama yang lainnya. Karena dia juga ngejelasin komposisi fotonya seperti apa, dan apa makna di balik fotonya. Yang terpenting adalah kenapa dia ngambil foto itu? Which is, ini esensi street photography yang sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi. 

Gara-gara ini, gue jadi terinspirasi dan semangat banget kemarin ngeditin file-file video lama gue dari 2023 akhir yang belum ke-publish. Butuh 3 hari doang, dan langsung selesai saat itu juga. Rare Billy moment, karena fyi, jiwa prokastinasi mengalir secara natural dalam darahku, karena keinginan untuk perfeksionis dalam segala hal yang kukerjakan. Cara nge-counter-nya, ya, satu-satunya adalah dengan menentukan deadline dalam sebuah karya atau karena memang ada makna yang lagi gencar-gencarnya ingin disampaikan aja biasanya, seperti sekarang ini.

Balik lagi, alasan kenapa gue bikin tulisan ini adalah karena dalam proses 3 hari ngedit video kemarin dari tanggal 10-13 Mei, gue bingung nyari referensinya ke mana? Lantas terpikir... " Lah, iya, ya, emang siapa YouTuber fotografi Indonesia? Yang sering gue tonton", terutama yang aktif?

Minimnya Pionir di Ranah Fotografi Indonesia

Karena jujur... untuk YouTuber fotografi di Indonesia nggak terlalu banyak yang nyantol di ingatan, nggak ada kayak 1 pionir yang tercipta dari komunitas dunia itu sendiri terutama dari Indonesia, yang bisa dibilang "Peter McKinnon-nya" Indonesia gitu. Kalau di Australia ada tuh, NorthBorders. You know what I mean lah, kalo kalian juga seorang fotografer yang juga upload konten di YouTube.

Pionir itu menciptakan inspirasi yang membuat pengaruh ke industri. Entah itu dengan cara memberi inspirasi ke generasi baru, atau membuat industri menjadi menarik sehingga lebih relyable untuk content creator baru terjun juga ke dalamnya karena konten-kontennya yang menarik dan memotivasi.

Govinda Rumi, salah satu fotografer Indonesia juga sempat menanyakan hal ini di Twitter. 

" Guys, YouTuber fotografi Indonesia yang kalian sering tonton siapa aja, sih?

Gue paham kenapa dia menanyakan hal ini, karena memang... ketika mencari inspirasi, kita kadang rely on to something like this. "Someone to look up into". Untuk asupan referensi supaya membuat karya yang kita buat menjadi jauh lebih baik lagi. Dan, belakangan memang gue ngeliat Govinda Rumi lagi sering bikin video-video gitu dengan diimbuhi story telling.

Kadang ada tweet dia " Kok bisa kontennya street fotografi tapi yang bagus malah videonya, bukan fotonya." Nah, kalo dipikir-dipikir ini aneh juga, sih.

Lalu, Siapa Pionirnya?

Di pikiran gua jujur nggak terlalu ada sosok yang gue pikirkan pada saat pertanyaan ini dilontarkan. " Emang siapa YouTuber fotografer Indo? Yang sering ditonton", di otak gue selalunya... " Lah, iya juga, ya, siapa?", tapi sebenarnya... jauh dalam dalam lubuk hati gue, gue bisa jawab, bahwa pionir yang dimaksud otak gue sekarang mungkin adalah Ivan Alam Saputra.

Tapi tau sendiri, seperti kebanyakan makhluk idealis lainnya, dia jarang upload video di YouTube. Tapi, somehow lately... dia aktif anehnya. It's so rare to see Ivan Saputra Alam upload video per bulan, terlebih dengan jumlahnya yang lebih dari 1 video.

Memang it is time, sih, untuk kreator-kreator yang genuine keluar, karena orang udah pada bosen kali, ya? Dengan algoritma sekarang dengan apa-apa aja yang 'hits'. People nowadays want genuine stuff, dan memang justru sekarang saatnya. Bahkan ada orang di YouTube yang yapping deep talk no edit aja bisa ditonton banyak orang.

Platform sekarang juga kebanyakan udah pada ngebayar creator mereka, paid ke konten-konten mereka karena yang gue lihat memang shifting gitu, jadi sekarang nggak di YouTube doang creator bisa dapet duit. YouTube Reels, Threads, bahkan Facebook rata-rata udah pada bisa menghasilkan uang juga di sana dari konten yang mereka buat, karena outside YouTube kan kebanyakan orang rely on views, sementara itu nggak bisa diduitin, tapi sekarang bisa.

Kembali lagi ke pertanyaan yang ditanyakan Govinda Rumi di Twitter-nya. 

Jawaban-jawabannya: Darwis Triadi, Robbie Sumantri, Martha Suherman, Jerry Aurum, Andry Dilindra, Nyong Ricko, Ivan Saputra Alam, Aditya Key, Faizal Wescott, Notmegapixels, Jordi Farhansyah, Govinda Rumi, Beawiharta, Figandlight.

Terus ada juga yang reply, " gatau, gaada yang aktif banget soalnya". Nah, ini adalah exactly hal yang juga gue rasakan. Bukan cuma nggak begitu aktif, kayak rata-ratanya juga Mid dalam dunia creations. Yang top notch menurut gue sendiri satu-satunya adalah Ivan Saputra Alam.

Awal-awal ketika nyari topik tentang street fotografi di YouTube gitu ada rmdh, atau Nyong Ricko. Sebelum kenal mereka gue udah jauh kenal dengan Ivan Saputra Alam dari video dia yang ini, dia memang suka street fotografi, tapi rata-rata karyanya yang ada di Instagram lebih ke brandingan dia sebagai seorang videografer dengan perusahaannya Athea Visuals.

Kalo ada yang bilang Darwis Triadi, jujur aku kurang setuju, karena kurang relevan di era fotografi jaman sekarang. 

Juga memang ada fotografer besar Indonesia yang sudah berkarir di Internasional kayak Faizal Westcott contohnya. Tapi kan, jatuhnya dia adalah fotografer NYC jadinya. " An American Indonesian, living in Boston/NYC" dia juga niche-nya bermain di street photography.

Permasalahan dengan Konten Fotografi

Pribadi gue sendiri, jujur jarang ngeliatin konten-konten yang berbau fotografi meskipun gue sendiri ada di ranah fotografi, karena bosen aja, gitu. Gitu-gitu mulu kontennya. Nggak ada insight-nya, kadang asik sendiri POV Street Photography tanpa menjelaskan komposisi dan hanya menunjukkan hasilnya aja. Balik lagi ini POV dari seorang fotografer juga, ya. Mungkin emang buat dokumentasinya aja. Sama kayak gue ng-upload video yang waktu di Pelabuhan Rakyat Gresik kemarin, pure untuk dokumentasi pribadi aja.

Terlepas dari topik fotografi sendiri yang mangsa pasarnya memang sedikit, karena kalo dipikir-pikir yang mengkonsumsi kan, ya, kita-kita sendir, para kreator itu juga, yang mencoba mengambil referensi dari video-video yang kita tonton. 

Biasanya konten-konten street fotografi yang populer justru didominasi  bukan karena topik street fotografi itu sendiri, tapi siapa yang difoto di dalamnya yang membuat kontennya populer. Misalnya yang difoto adalah seorang yang cantik atau artis, misalnya BA Esports. Jadi bukan karena topik street fotografi itu sendiri tapi karena ada sesuatu yang 'hits' di dalamnya, makanya jadi naik kontennya . 

Keresahanku dengan banyaknya konten fotografi di YouTube adalah kadang semuanya serba cepat, nggak ada momen untuk mencoba mengapresiasinya, menjelaskan kenapa kamu mengambil foto itu? Supaya ada makna lebih di dalamnya.

Dia!

Sampai... aku bertemu dengan channel ini, Kevin Setiabudi, yang ternyata dia juga seorang fotografer asal Surabaya, se-regional ternyata kita! Waktu subscribe channel-nya, dia ada di angka 1.500. Nggak banyak, kan? Tapi, setelah gue lihat, dia udah create cukup banyak konten yang jauh lebih insightful, melebihi channel-channel fotografer besar kebanyakan. Ada effort lebih yang nggak banyak YouTuber fotografi Indonesia lakukan. 

Gue ngerasa dilibatkan dalam setiap proses kreatifnya, fotonya juga nggak yang bagus amat. Jelek, tapi justru karena itu bisa belajar bareng, tumbuh bareng dan nge-review supaya nggak melakukan kesalahan yang sama.

Banyak fotografer di luar sana yang fotonya bagus. Tapi, nggak banyak orang yang bisa menjelaskan sesuatu dengan baik, terlebih lagi nyaman dan enak untuk didengar, yang bikin penonton engage dan memperhatikan apa yang kamu buat lebih dalam lagi, dan membangun koneksi di sana. Ini adalah core pembedanya.

Cara dia menjelaskan juga simple, dan mudah dipahami oleh orang awam sekali pun, nggak banyak fotografer yang bisa kayak gini. Pandai untuk mejelaskan dan mengkritisi foto yang dia ambil sendiri. Gue aja dapat banyak insight setelah menonton video-videonya, padahal gue bisa dibilang jago dalam dunia fotografi. Tapi, cara dia menjelaskan ini kayak... menjelaskan sesuatu yang obvious yang sulit untuk dijelaskan, tapi dia jelaskan. Membuka hal yang biasanya nggak dijelaskan dan membuatnya menjadi asik untuk dipelajari.

Sampe sekarang geleng-geleng gua dengan cara dia menjelaskan komposisi foto-fotonya. Kayak ada script yang dia kerjakan hanya untuk menjelaskan 1 foto itu. Kayak, " Kok bisa, woe?!", kagum aja gitu dengan bagaimana cara ia menjelaskan foto-fotonya. Serius, nggak banyak memang orang yang bisa menjelaskan sesuatu, and you have to monetize this skill. Mahal, sumpah.

Aku bisa bilang dia ini one of a kind, sih. Aku aja bisa jadi sampai termotivasi untuk mengedit video-video POV lamaku gara-gara dia, serius. Kayak menyalakan api seniku lagi, dalam dunia video creation.

Aku akui, video-video POV street fotografiku memang kutujukan untuk diriku sendiri, sekedar dokumentasi aja, memang bukan untuk orang umum. Mangkanya biasa aja dan membosankan. Tapi kali ini, aku bisa bilang memang video ini kutujukan untuk orang umum.

Penutup

Efek dari pionir dalam suatu ranah itu besar. Pada masanya, fotografi portrait waktu itu, contohnya aja Brandon Woelfel di bidang portrait-nya, jadi tren style dia. Fotografer waktu itu ketika ngedit pada naikin Shadow di foto-foto mereka, wkwk. Tujuannya? Ya, supaya mirip dengan foto-foto Brandon Woelfel. Aku notice banget ini jaman dulu, karena aku juga ngelakuin hal yang sama juga. Ini adalah contoh foto yang dinaikkan shadow-nya terus ditambah dengan elemen confetti gitu khas Brandon Woelfel abis. 

Karya Stage Photography @Bilnsky Tahun 2018
Karyaku Tahun 2018

Coba liat videonya Ivan Saputra Alam di 7 tahun lalu. Itu juga terinspirasi dari Brandon Woelfel weh, hahaha...

Dan jangan lupa, bahwa tulisan ini ada dan dibuat juga karena awalnya gue terinspirasi dari videonya Kevin Setiabudi, fyi artikel ini ditulisnya pun nggak nyampe 2 jam, video kemaren yang gue buat nggak nyampe 3 hari, menunjukkan bahwa betapa feel inspired-nya gue saat ini karenanya. Karena serius, nggak banyak fotografer yang menjelaskan komposisi foto sepertinya, jadinya gue juga terinspirasi untuk ikut bikin juga. Sebesar itu efek dari pionir di dunia kreatif.

Pada dasarnya, pionir itu artinya orang pertama, yang memulai sesuatu sebelum orang lain. Bisa dibilang, dia yang ngebuka jalan, untuk hal-hal baru, atau jadi pelopor dalam bidang tertentu. Misalnya, orang yang pertama kali nyoba bikin sesuatu yang belum ada sebelumnya, atau yang berani melangkah lebih dulu pas orang lain masih ragu-ragu. Intinya, dia yang mulai duluan dan jadi penentu arah.

Pionir itu bukan cuma jadi yang pertama, tapi juga ngasih pengaruh yang bikin industri berubah. Mereka bisa jadi sumber inspirasi buat generasi baru, atau bikin industri itu sendiri kelihatan lebih menarik dan bisa diandalkan. Konten-konten yang mereka buat biasanya nggak cuma unik, tapi juga memotivasi banget, sampai-sampai bikin orang lain jadi pengen ikut terjun juga. Yang entah kenapa gue ngeliat ini di Kevin Setiabudi.

Kartun Buah-Buahan yang di Trans 7 Itu

Kartun Buah-Buahan yang di Trans 7 Itu
"Kartun Buah-Buahan yang di Trans 7 Itu"

Yak, seperti yang kalian lihat di judul artikel ini, "Kartun Buah-Buahan yang di Trans 7 Itu" adalah kata kunci yang gue gunakan untuk mencari kartun animasi masa kecil gue yang satu ini. Bayangkan sedang asyik ingin bernostalgia dan sekedar mencari tau informasi tentang animasi buah-buahan yang satu ini..

Belajar dari Vivian Maier

Belajar dari Kisah Vivian Maier
Vivian Maier, Undated
© The Estate of Vivian Maier, courtesy Collection John Maloof

Sebelum menemukan kisah dari seseorang yang bernama Vivian Maier, aku sebetulnya sudah sering melihat karya-karyanya di berbagai platform media sosial. Karena memang bertebaran di mana-mana, yang mana makin membuat rasa penasaran ini meningkat akan tentang sosoknya seperti apa.

Cara Pandangku Terhadap Hubungan

Cara Pandangku Terhadap Hubungan
If the sky pink and white

Gue termasuk orang yang bisa dibilang buruk jika berurusan dengan "hubungan antar manusia". Terdengar aneh memang, mengingat karya-karya gue yang kebanyakan mengangkat tema tentang kemanusiaan, human-interest/street photography. Tapi justru, di sini letak menariknya. Let me explain..

Menyelami Kisah Vivian Maier

Belajar dari Kisah Vivian Maier
Vivian Maier, Chicago, 1956 
© The Estate of Vivian Maier, courtesy Collection John Maloof

Sudah sekitar sebulanan kayaknya aku enggak liat film. Film terakhir yang aku lihat sampai sekarang masih dengan documentary-nya Vivian Maier. Sengaja. Karena memang ingin yearning aja. Sayang kalau perasaan ini terlewat begitu saja. Karena aku jarang betul untuk rewatch sesuatu, ketika ingin rewatch sebuah film, di otakku pasti akan ada suara, "Hey, ada banyak film yang belum ditonton di luar sana, dan kamu memilih untuk rewatch?".

Menjawab Pertanyaan Diri: Kenapa Aku Enggak Pernah Ngerasa Insecure?

Menjawab Pertanyaan Diri: Kenapa Aku Enggak Pernah Ngerasa Insecure?
Bali, 24 Juni 2018

Ini adalah draf pikiranku di tahun 2021 yang kubuka kembali di tahun 2025. Keresahan insecurity ini bisa dibilang keresahan terbesarku pada saat itu, karena sering sekali kupikirkan dan memutuskan untuk meluapkannya ke dalam bentuk tulisan, tapi ngga di-upload, biasa, kebiasaan nge-draf. Jika tak diluapkan pada saat itu agaknya sudah pasti akan meleduk sia.

Aku selalu penasaran kenapa aku enggak pernah ngerasa insecure di saat banyak orang merasakan hal ini, dan tujuanku menulis artikel ini adalah sekaligus mencari jawabannya. Harapannya ya siapa tau ini akan menjadi manfaat bagi banyak orang yang merasakan hal yang sama dan bantu kalian untuk mengatasinya. Mari, sama-sama mencari jawabannya, kutunjukkan cara biar kamu enggak insecure lagi. Sebelum itu, kita pahami dulu..


Memahami Insecure

In·se·cure/insecurity, perasaan nggak aman yang pada dasarnya muncul dari dalam diri sendiri. Rasa ini yang bikin kita jadi meragukan diri, yang nimbulin rasa nggak percaya diri, malu, bahkan merasa rendah diri karena ngerasa orang lain selalu lebih baik.

Rendah diri di sini maksudnya perasaan atau keyakinan bahwa diri sendiri nggak cukup baik, nggak seberharga orang lain, atau selalu kurang dibandingkan orang lain. Selalu kalah dalam perbandingan.

Perasaan nggak aman ini biasanya muncul ketika lagi ngerasa bersalah, kekurangan, atau merasa nggak mampu untuk ngelakuin sesuatu seperti yang dilakukan orang lain.

Makanya, orang yang insecure cenderung punya kepercayaan diri yang tipis, rapuh, nggak yakin dengan kemampuan dirinya sendiri dan bertanya-tanya, "Apa iya orang lain beneran suka sama diriku?", "Apa aku pantas ada di sini?".

Jadi kalau disimpulin, insecure ini perasaan nggak nyaman sama diri sendiri. Merasa nggak cukup berharga, takut ditolak, takut dibandingkan, takut nggak disukai. Intinya merasa kurang dari orang lain. Bukan karena kita memang kurang, tapi karena kita ngerasa kurang.

Penyebabnya

Berdasarkan pengamatanku di 2021, saat draf ini dibuat, insecurity sering muncul saat kita membandingkan diri. Kebanyakan orang yang menggunakan kata insecure ini, ketika mereka melihat konten orang lain di media sosial, yang mana dia merasa orang ini "lebih" dari dirinya, entah itu dari segi fisik (lebih cantik, ganteng) ataupun dari segi ekonomi (seperti karier dia lebih sukses, anak orang kaya, dan lainnya).

Di saat dia membandingkan diri, perasaan ketidakamanannya muncul dan melunturkan rasa percaya dirinya, jadinya insecure deh. Coba liat aja komen-komen seperti, “Aku insecure banget liat ini” sering seliweran di TikTok atau platform lain pada saat itu. Menurutku, ini bukti bahwa social media punya dampak besar ke kesehatan mental terutama rasa insecure ini.

Psikologi bilang bahwa insecurity juga bisa asalnya dari faktor eksternal seperti tekanan sosial, standar yang nggak realistis, kurangnya dukungan emosional, atau faktor lingkungan yang nggak mendukung.

Sesimpel saat kita melihat seseorang dengan karier yang lebih baik atau penampilan yang menarik, seseorang mungkin merasa "tidak cukup" dan mulai mempertanyakan nilai dirinya. Yang perlu diingat adalah bahwa insecurity bukan hanya soal penampilan atau status ekonomi. Bahkan, yang dianggap "good looking" atau sukses pun bisa ngerasa insecure. Kenapa? Ya, karena setiap orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing, dan perasaan ini seringnya lebih tentang pola pikir daripada realitas.



Cara Efektif Biar Enggak Insecure Lagi

Perlu di-note bahwa poin-poin yang kusampaikan di bawah ini berurutan dan saling berkaitan dengan poin sebelumnya.

Kontrol dan Latih Pola Pikir Stoik

Padahal, kalo dipikir-pikir lagi dengan baik, faktor-faktor eksternal ini bukanlah hal yang bisa dikontrol. Cantik nggaknya orang, pencapaian orang, ini adalah hal yang di luar kontrol kita, asalnya dari luar diri. Sekarang coba liat ke dalam diri lalu bertanya apa yang bisa dikontrol? Ya, reaksi kita terhadapnya.

Memang benar bahwa counter anak-anak jaman sekarang itu adalah Stoic. Berasa kayak all in one package solution aja gitu terhadap segala hal pikiran negatif yang mereka ciptakan sendiri.

Karena filosofi stoikisme ngajarin untuk fokus pada hal yang bisa kita kontrol aja, kayak usaha (untuk memperbaiki penampilan diri) dan sikap (terhadap pencapaian dan penampilan mereka), bukan malah fokus dengan hasil atau opini orang lain. Dengan menerapkan pola pikir ini, kalian bisa lebih tenang menghadapi tekanan eksternal dan mengurangi rasa insecurity ini.

Ubah Sudut Pandang dan Pola Pikir

Aku sering mikir, kenapa sih kalau kita lihat konten orang yang “lebih” dari kita, entah mereka lebih cantik, lebih ganteng, sukses, atau punya hidup yang kelihatannya wow, reaksinya justru nge-down karena insecure? Bukannya malah termotivasi? Aneh nggak sih? 

Menurutku, ini semua tentang sudut pandang dan pola pikir. Alih-alih melihat orang lain sebagai inspirasi, kita malah tenggelam dalam perasaan “Aku nggak cukup baik”. Padahal, kalau dipikir-pikir, insecure itu bisa banget kita suling jadi bahan bakar buat motivasi.

Bayangin, kalau ada orang posting pencapaian mereka, misalnya karier cemerlang atau penampilan yang kece, kenapa kita nggak bilang dalam hati, “Keren, aku juga pengen kayak gitu!” daripada komentar, “Duh, aku insecure banget lihat ini”? Reaksi kita itu pilihan, loh. Sikap yang kita ambil menentukan apakah kita bakal jalan ke depan atau stuck di tempat. 

Insecure itu wajar, tapi kenapa nggak kita balik jadi dorongan buat improve diri? Misalnya, lihat orang jago ngomong di depan umum, daripada ngerasa kecil, coba deh belajar public speaking. Atau lihat orang punya bisnis sukses, daripada merasa “Aku nggak akan bisa”, mulai cari tahu langkah kecil apa yang bisa kamu ambil.

Intinya, insecure itu kayak alarm kecil di kepala yang bilang, “Hei, ada sesuatu yang kamu pengen!” Jadi, alih-alih ngebiarin alarm itu bikin panik, dengerin apa yang sebenarnya kamu mau, lalu ubah jadi tindakan. Ganti mindset dari “Aku nggak sebanding” ke “Aku bisa belajar dari mereka”. Dengan gitu, kamu nggak cuma lepas dari insecure, tapi juga jadi versi lebih baik dari dirimu sendiri.

Mengenal Diri Lebih Dalam

Jika insecure adalah perasaan tak percaya diri atau adanya ketidakpastian dalam diri sendiri. Berarti, bukannya mereka harusnya mengenal diri sendiri lebih jauh lagi? Karena banyak loh, orang yang merasa udah kenal dengan dirinya tapi ketika ditanya, "Apa makanan atau film favoritmu?" Mereka bingung jawabnya apa.

Aku selalu bertanya-tanya, kenapa aku nggak gampang insecure? Ternyata, kunci utamanya adalah mengenali diri sendiri. Cari tahu apa yang bikin kamu unik, apa kekuatanmu. Kalau kamu tau betul siapa dirimu, perbandingan sama orang lain tuh jadi nggak relevan.

Menghindari Perbandingan

Kita udah tau, kan, bahwa pemicu dari insecure itu sering banget gara-gara kita suka banding-bandingin diri sama orang lain. 

Misalnya, ngeliat postingan orang yang keren banget fotonya di Instagram, terus jadi banding-bandingin tuh dengan foto punyamu. Tiba-tiba ngerasa foto kita “kok gini amat” Akhirnya malah jarang post karena minder, kan, aneh. Padahal siapa tau itu strength dia, ya, emang karena jago foto aja gitu loh, karena anak seni, misal.

Bener-bener nggak relevan sama sekali, kan? Selain environment-nya beda, kalian ngga tau referensi apa aja yang mereka sudah lahap untuk mendapatkan skill itu, yang kamu compare itu tadi. Karena nggak masuk akal banget kalau kita nilai diri kita berdasarkan kekuatan orang lain. Tiap orang punya kelebihan masing-masing, dan itu nggak bisa diadu gitu aja.

Jadi, daripada ngerasa down gara-gara kelebihan orang, mending gali potensi diri dan bikin itu bersinar. Ini cara paling ampuh buat nendang rasa insecure jauh-jauh!

Cari dan Kenali Strength (Kekuatan) Diri

Ini menurutku poin paling penting dari supaya enggak lagi insecure. Strength (kekuatan) yang kumaksud di sini adalah skill (kemampuan). Skill ini ibarat tameng, yang buat diri kamu jadi mikir bahwa, "Aku berharga", dan jadi 'secure'. Karena ada value yang kamu offer ke society. 

Ketika suatu saat kamu udah tau jagomu di mana/skill-mu apa, insecure akan menjadi usang dan berdebu. And again, because you're really good at it, komparasi sampai-sampai bukan lagi jadi sebuah opsi. Bahkan, untuk lewat di pikirin aja enggak akan. 

Ini adalah kasus real yang terjadi padaku, jawaban dari pertanyaan yang kuajukan berkali-kali terhadap diriku sendiri "Kenapa, ya, aku nggak pernah ngerasain yang namanya insecure ini". Ya, karena aku memang sejago itu di hal yang aku lakukan, which is Fotografi.

Fokus pada Kemampuan/Value Diri

Banyak orang di luar sana yang ngga good looking, tapi dia jago banget dalam menulis dan bercerita (story telling) lalu memanfaatkannya dengan semaksimal mungkin sehingga keahliannya ini bisa ke berbagai arah, dari awalnya sekedar menulis diary untuk Blog-nya lalu berkembang ke Stand Up Comedy, Buku, Film, bahkan sekarang Musik. 

Ya, contohnya adalah Bang Raditya Dika, dia full fokus pada kekuatan dirinya, untuk ngembangin skill dia, sehingga kelebihannya lebih menonjol daripada kekurangannya, dan tentunya bermanfaat bagi orang banyak.

Tentunya hal ini bikin dia ga akan ada waktu untuk memikirkan orang lain yang mana itu menuju tidak adanya insecure di dalam diri karna dia sudah percaya dengan dirinya percaya pada kekuatan yang ada pada dirinya kuncinya fokus mencari kekuatan dalam diri sendiri.

Poinnya di sini adalah gue percaya bahwa setiap orang punya kelebihannya masing-masing. Alih-alih fokus pada kekurangan seperti, "Aku nggak bisa foto sekeren dia", "Aku nggak secantik dia", lebih baik cari tahu apa yang membuat dirimu istimewa. 

Apakah pandai berbicara, menari, atau sekedar jago membuat orang tertawa? Kembangkan kelebihan ini. Belajar dari contoh Bang Radit tadi, seseorang yang tidak percaya diri dengan penampilannya bisa fokus pada keterampilannya seperti menulis atau berkomedi, yang pada akhirnya membuat mereka lebih percaya diri.

Menemukan Hobi yang Bermakna

Kalian sadar ngga, sih, bahwa orang Indonesia itu rata-rata punya terlalu banyak waktu luang, sehingga juga punya banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang ngga perlu. 

Contohnya, ya, waktu untuk insecure ini. Ngetik komentar, kan, perlu waktu, kan, yak? Gua sendiri pernah ketemu komentar panjang lebar yang intinya dia itu insecure basically, dan itu ngga satu dua orang. 

Udah insecure, dituangkan pula dalam bentuk komentar, terus tiap yang nge-like-in komentar dia kan jadinya nge-remind diri dia sendiri bahwa dia insecure. Iya kalo like-nya satu, dua orang? Terus-menerus? Kayak alarm cuy yang ngingetin bahwa lu tuh insecure tiap baca notification.

Hobi ini adalah fungsi yang tepat untuk waktu luangmu, dia yang mengisi kekosongan di hari-harimu sehingga kamu bisa mengenal diri lebih jauh lagi. Jangan pernah remehkan hobi, justru mereka adalah jembatanmu untuk mengenal dirimu lebih dalam lagi. 

Hobi bisa apa aja, baca novel sekali pun itu juga termasuk hobi. Karena arti dari hobi sendiri adalah, aktivitas yang dilakukan di waktu luang. Kegemaran, kesenanganmu pada waktu senggang, waktu untuk menenangkan pikiran, apa pun yang mengembangkan diri. 

Nanti, dari banyaknya hobi yang kamu coba di waktu luangmu akan ada satu yang nyantol yang bikin hati tergelitik ketika melakukannya. That's the sign when you found it. Hobi yang bermakna.

Hidup di Masa Sekarang dan Fokus pada Saat Ini

Aku paham bahwa ketidakyakinan saat insecure itu mengguncang dan membuatmu bingung akan apa-apa saja yang akan terjadi di masa depan, tapi ingat, bahwa masa depanmu tergantung dari apa yang kamu lakukan pada saat ini. Jadi fokus pada saat ini.

Jika belum menemukan hobi yang bermakna, nggak masalah, yang penting jalani hidup dengan penuh makna. Fokus pada momen sekarang. Apa yang sedang dilakukan? Asah skill. Kalo belum punya skill kenalan sama diri sendiri dulu lebih jauh lagi. 

Coba hal baru yang berhubungan dengan seni (ekspresi jiwa) manusia. Entah itu baca buku, nonton film, dengerin musik). Jangan terlalu khawatir tentang masa depan (karier, tujuan besar).

Karena hati-hati, fokus itu bisa jadi suggestion. Pilot yang dibilangin jangan nabrak gedung pasti akan berhati-hati dan mikirin gedung seperti apa yang akan muncul di depannya, "mana gedung, mana gedung?" di pikirannya. Sampailah di tujuan tapi tidak ada gedung satu pun yang nampak di perjalanan.

Baca Juga: Present

Bangun Lingkungan yang Positif

Ada yang bilang, "Tunjukkan teman-temanmu, maka akan aku tunjukkan bagaimana masa depanmu". Lingkungan itu berpengaruh banget ke pola pikir. Kalau temenmu insecure, toxic atau males-malesan mending jauhin. 

Ganti dengan orang-orang yang satu visi dan misi denganmu. Gausah ketinggian, yang satu interest dan satu pola pikir aja dulu. Tentu yang interest-nya ke arah hal yang positif, ya, yang bikin kamu juga berkembang, dan bukannya malah "crab mentality" yang jadi mempertebal insecure-mu misal.

Ketika kamu berbicara atau bahkan hanya memperhatikan bagaimana orang percaya diri/positif bekerja, otomatis pola pikir dia itu akan nular ke kamu secara perlahan. 

Coba tonton podcast orang-orang yang baik secara pola pikirnya: Raditya Dika, Raymond Chin, Felix Siauw, Deddy Cobuzier, Rocky Gerung. Tulisan yang kamu baca sekarang ini adalah hasil dari mereka semua, dari aku memperhatikan bagaimana cara mereka berpikir dan mengaplikasikannya ke hidup.

Kendalikan Media Sosial

Insecure sering kedengeran, terutama untuk kalangan anak muda di era media sosial ini. Kadang aku mikir betul kenapa banyak anak muda jaman sekarang sering mention kata-kata ini; insecure, anxiety, depression dan kata terkait kesehatan mental lainnya. 

Menurutku, ini bukti bahwa social media sangat berdampak, dan ada kaitannya dengan hal ini. Karena gak jarang ngeliat komentar soal insecure di 1,2 video TikTok yang lewat atau pun di platform sosial media lainnya, terutama yang ada hubungannya dengan visual/gambar.

Sosial media ini ibarat momok penyakit dari insecure ini, karena memang trigger-nya ada di sini. Ibarat loophole yang harus segera diputus. Saranku jangan dihentikan, tapi kendalikan, di sini kuncinya. 

Kalo ada pikiran negatif tentang insecure, jangan malah komentar seperti, "Aku insecure liat ini". Karena apa yang kamu tulis dan pikirkan lama-kelamaan akan menjadi mindset di alam bawah sadarmu.

Selalu ingat bahwa social media only show highlights of their life. Prosesnya nggak mereka liatin, karena berdarah-darahnya di sana. 

Dan kalau pun mereka share kesenangan, jangan ganggu mereka dengan komentar perbandingan yang nggak penting, siapa tau mereka cuma share kesenangannya aja di social media tanpa ada rasa ingin pamer, entah itu ketika dia dapet barang baru or anything like that. Reaksimu terhadap hal-hal seperti ini adalah kunci terhadap pembentukan pola pikirmu.


Alasanku Enggak Pernah Ngerasa Insecure

Dari 10 poin di atas yang kukeluarkan, sekarang make sense aja gitu kenapa aku ngga pernah ngerasain yang namanya insecure. Tampangku memang biasa aja, tapi aku memperbaiki penampilanku, jadi bisa suka dan cinta banget sama diri sendiri. Bahkan malah sampai ada di titik di mana aku ngakuin dan sampai ngomong ke diri sendiri, "Lu tuh ganteng, Bil". Walaupun fakta sebenarnya *ehem. 

Di sisi lain aku juga olahraga angkat beban, tubuh yang tadinya cungkring jadi berisi, yang mana ini meningkatkan rasa percaya diriku berkali lipat. Skill-ku? Buset, aku nggak ragu untuk bilang di fotografi, I'm on top of the world, man. Jago parah. 

Ini adalah sebagian contoh kecil aja bagaimana rasa insecure supaya nggak bisa masuk ke dalam tubuh dan pikiranku, karena pada dasarnya aku merasa nyaman dengan diriku. Coba deh belajar dari keluarga Gen Halilintar. Atta nggak ganteng (sorry to say), tapi aku yakin, dia berusaha untuk membuat dirinya nyaman dengan kacamata dan bandana dia. Salah satu usaha supaya dia enggak insecure. Biar suka sama dirinya sendiri, biar percaya diri.

Balik ke awal, tujuan utama aku ngetik artikel ini adalah untuk bisa menjawab pertanyaan yang kuajukan ke diriku sendiri: "Kenapa aku nggak pernah bisa ngerasain yang namanya insecure?" Karena jujur aja, dari dulu aku memang belum bisa relate.

Belum bisa relate dalam artian "Belum nyambung, karena belum mengalami atau belum ngerti dari sisi emosinya." Jadinya aku merasa ngga punya cukup landasan untuk ngasih advice lebih ke orang-orang yang lagi ngerasa insecure. 

Untungnya, di tahun 2025 ini, aku sudah sampai di titik di mana aku bisa memahami perasaan itu dan bisa nge-release artikel ini untuk menjawab pertanyaanku sendiri. Walau memang belum pernah mengalami persisnya, tapi aku bisa nangkep esensinya dan merasakannya secara empatik.


Pentingnya Insecure

Beside, insecure itu bukan hal buruk. Justru sebaliknya, ini tanda bahwa kalian aware sama diri kalian sendiri, sadar akan kekurangan, dan secara ngga langsung itu nunjukkin kalau kalian, yang artinya mau nih untuk improve. 

Jangan dipikir bahwa ketika kalian insecure kalian itu salah, ngga gitu. Perasaan ini valid, dan layak untuk diakui. Orang yang ngga mengakui kesalahan adalah orang-orang yang ngga akan berkembang.

Normal untuk manusia merasakan yang namanya insecure karena perasaan itu menyediakan ruang untuk berkembang. Sekarang gimana cara kita aja untuk merespon perasaan insecure ini. Dengan terus-terusan down, atau koreksi masalahnya, lalu level up.

Yakali badan bau/gemuk, gigi berlubang, rambut acak-acakan, lu pede aja gitu, gas aja gitu? Jadikan rasa insecure bahan bakar untuk bisa lebih berkembang, bukan malah dijadiin tameng untuk menyalahkan orang lain dan malah membenarkan sikap negatif diri.

Tips Memotret Demo untuk Fotografer Jurnalistik Pemula

Tips Memotret Demo untuk Fotografer Jurnalistik Pemula

Belakangan ini, Indonesia sedang diwarnai gelombang aksi massa yang melibatkan mahasiswa dari berbagai daerah. Dari barat hingga timur, suara perlawanan terus menggema di jalan-jalan, menyuarakan keresahan terhadap berbagai kebijakan dan keputusan pemerintah yang dianggap merugikan banyak pihak.

Di tengah massa yang bersatu menyuarakan kegelisahan, gue sadar bahwa fotografi jurnalistik bukan sekedar teknik, tapi keberanian untuk hadir. Untuk menangkap emosi, perlawanan, harapan. Semua ada dalam satu frame. Demo bukan hanyalah keramaian. Ia adalah cerita. Dan tugas kita adalah mendengar, melalui cahaya dan bayangan.

Lewat artikel ini, gue ingin berbagi tips memotret demo untuk fotografer jurnalistik pemula yang bukan hanya dari sisi teknis, tapi juga etika, rasa, dan kesadaran. Biar kalian nggak cuma pulang bawa foto, tapi juga pemahaman dan rasa. Tentang bagaimana sebuah gambar bisa sangat berdampak. Tentang bagaimana kamera bisa menjadi sebuah suara.

Demo di Grahadi Surabaya kemarin, tanggal 24 Maret 2025, menyadarkanku akan banyak hal. Di tengah riuhnya orasi, lautan poster, dan denting ketegangan, aku menemukan diriku berdiri bukan sebagai peserta, bukan pula sebagai penonton, melainkan sebagai saksi. Tanpa rencana, aku menjelma menjadi fotografer jurnalistik dadakan. Kamera di tanganku bukan lagi sekedar alat, tapi jendela menuju narasi yang lebih dalam. 

Melihat apa-apa saja yang terjadi di lapangan, terlebih dengan keadaan gue yang tiba-tiba mendadak menjadi fotografer jurnalistik tanpa persiapan apa-apa menginspirasiku untuk berbagi tips memotret demonstrasi buat temen-temen pemula dalam dunia fotografi maupun jurnalistik yang ingin menyuarakan perlawanan lewat fotografi. Dan supaya kalian bisa mengabadikan momen penting demonstrasi dengan baik dan aman.


Tips Memotret Demo untuk Fotografi Jurnalistik Pemula

1. Pahami Konteks Demonstrasi

Pahami Konteks Demo: Fondasi Fotografi Jurnalistik

Ini adalah core/fondasi dari fotografi jurnaslistik. Sebelum memotret, hal pertama yang wajib kalian lakukan adalah memahami konteks demonstrasi. Apa yang sedang diperjuangkan? Dan siapa saja yang terlibat? Misalnya, demo tentang RUU TNI kemarin, cari tau tuntutan mereka, seperti penolakan terhadap perluasan wewenang militer di ranah sipil, kekhawatiran akan kembalinya dwifungsi TNI, atau desakan agar reformasi sektor pertahanan tetap dijaga. 

Sebagai fotografer jurnalistik, kita bukan massa yang dibayar cuma buat ikut-ikutan. Dengan memahami konteks, fotomu akan punya cerita yang kuat dan lebih bermakna, bukan sekedar jepretan acak tanpa ekspresi. Caranya? Coba lebih membaca perkembangan berita dari demonstrasi yang akan diadakan, cek postingan-postingan di 𝕏 karena di sini update-nya lebih cepat.


2. Riset Lokasi dan Rute

Selain konteks, riset tempat juga krusial. Ini adalah cara agar persiapan menjadi matang sebelum berangkat. Demo biasanya punya rute-rute tertentu, misalnya kemarin demonstrasi di Surabaya, dari Gedung Negara Grahadi Surabaya sampai Taman Air Mancur, bahkan sampai Plaza Surabaya. Cari tau titik kumpul massa ada di mana, jalur yang akan dilewati, dan potensi titik bentrokan berdasarkan aksi-aksi sebelumnya biasanya ada di bagian mana. Nggak usah jauh-jauh, deh. Mau parkir di mana aja dulu dari titik kumpul massa-nya.

Google Maps adalah teman hidupmu di sini. Selain itu, coba siapkan escape plan. Kalau-kalau situasi eskalasinya meningkat, misal, aparat mulai pakai gas air mata atau massa jadi ricuh, kalian harus tau ke mana kalian harus lari. Catat juga lokasi gang kecil, kafe terdekat, halte atau masjid yang bisa jadi tempat untuk berteduh sementara. Untungnya, kemarin ada masjid 8 menit jalan dari titik lokasi, jadi gue bisa jeda dan melepas penat sejenak dan berbuka puasa, supaya bisa kembali fokus untuk menangkap momen.


3. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD)

Safety first! Demo di Indonesia, terutama di 2025 ini, sering berpotensi represif. Coba liat aja aksi-aksi sebelumnya: water cannon, gas air mata, bahkan lemparan batu dari oknum dan massa bukan hal yang langka. 

Makanya, APD adalah wajib hukumnya. Minimal pakai helm konstruksi, masker anti-polusi (bukan masker kain biasa), dan kacamata pelindung kalau punya. Payung juga berguna, bukan cuma buat hujan, tapi buat melindungi kamera dari semprotan air atau benda jatuh. Oh, iya, jangan lupa bawa botol air dan handuk kecil, selain untuk minum, juga untuk bilas mata kalau kena water cannon atau gas air mata. Pengalaman kemarin mengajarkan, bahwa persiapan bisa menyelamatkan gear sekaligus nyawa!


4. Prioritaskan Keamanan Diri

Jangan jadi target! Keamanan diri nggak cuma soal APD, tapi juga penampilan. Pakai baju yang netral, cari tau dresscode warna dari demo, kaos polos hitam atau abu-abu, celana jeans, sepatu lari. Intinya hindari warna-warna yang mencolok atau atribut yang bisa dikira provokator. 

Pastikan kamera selalu dipegang erat dan pakai strap kamera yang nggak gampang copot. Simpan juga dompet dan HP di saku dalem, bukan tas punggung yang rawan untuk dirampas.



5. Pilih Gear yang Tepat

Bukan hanya memilih gear yang tepat, tapi juga yang simpel dan efektif. Soal peralatan, jangan bawa terlalu banyak. Yang simpel aja, ini demonstrasi bukan studio foto. Mobilitas adalah kunci. Bawa kamera mirrorless kalau ada, karena ringkas dan kecil bentuknya. 

Pastikan baterai penuh dan bawa cadangannya. Begitu pun juga memory card, pastikan cukup. Strap kamera yang kuat juga wajib biar nggak jatuh pas nanti lari. Oh iya, tas waterproof kecil bisa jadi penutup darurat kalau hujan atau kena water cannon.

Bayangkan betapa gilanya momen kemarin karena gue pakai lensa fix. Tapi lagi-lagi ini tergantung style-mu sebagai seorang fotografer. Jungler, Marksman, atau Fighter? Rekomendasiku:

  • Jungler: Lensa 24-70mm bisa jadi pertimbangan karena serba guna, bisa potret close-up wajah demonstran atau wide shot kerumunan. 
  • Marksman: Lensa tele (100-400mm), cocok kalau kamu tipe pengamat yang memotret dari jauh layaknya sniper, misalnya dari balkon atau pinggir jalan.  
  • Fighter: Lensa wide (16-35mm), pas buat ambil gambar dramatis dari tengah massa.

6. Jaga Privasi dan Etika

Hormati peserta demo. Demo adalah situasi sensitif. Gue baru sadar setelahnya bahwa peserta bisa jadi target aparat atau pihak tertentu kalau identitas mereka ketauan. Jadi, kalau ada wajah yang terlalu jelas di foto, lebih baik disensor, apalagi kalau mereka sedang melakukan aksi massa.

Caranya gampang, di Lightroom, pakai radial gradient di wajah subjek, lalu turunkan exposure-nya sampai gelap total atau turunkan sharpness/clarity-nya. Kalau buru-buru, crop aja bagian kepalanya. 

Etika lain: jangan provokasi massa demi dapet foto yang bagus. Misalnya, minta mereka teriak lebih kenceng atau bikin pose. Ini bukan jurnalistik, tapi memanipulasi cerita. Biarkan saja apa adanya, karena ini akan jauh lebih terasa.


7. Cari Angle dan Perspektif Unik

Cari Angle dan Perspektif Unik: Bikin Foto Beda

Bikin foto jadi beda! Fotografi jurnalistik bukan cuma dokumentasi, tapi juga seni dalam bercerita. Bagaimana cara kalian menyampaikan cerita lewat visual. Karena visual yang keren aja ngga cukup untuk memberikan impact. Perlu ada makna yang lebih dalam di baliknya. 

Di pengalaman demonstrasi kemarin ketika menggunakan lensa fix, jujur, susah untuk movement ke sana kemarinya, karena sesak dan ramai, jadi satu-satunya yang bisa gue andalkan adalah angle. Jadi, coba variasikan angle:

  • Low angle: Ambil foto dengan jongkok atau tiarap biar massa terlihat gagah dan powerful.  
  • High angle: Naik ke tempat tinggi (tangga, kendaraan, balkon) buat nunjukin skala besar demo.  
  • Detail shot: Zoom ke tangan yang sedang menggenggam poster, ketika sepatu berlumur, atau pilok atau coretan di tembok.

Kepekaan terhadap diri dan sekitar menjadi kunci di sini. Sabar dan terus awasi sekitar. Ketika menunggu momen gunakan mode burst shot yang bisa 5-15 frame per second ini akan sangat membantu. Posisikan sudut pandang menjadi demonstran supaya ekspresi emosi dalam penangkapan gambar bisa tersampaikan lebih dalam.


8. Hindari Malam

Hindari Malam: Pulang Sebelum Situasi Terlalu Memburuk

Pulang sebelum situasi terlalu memburuk. Waspada di waktu senja ke atas apalagi setelah jam 6 sore. Memang motret di waktu malam bikin foto keliatan lebih cinematic dengan cahaya lampu jalan dan kontras gelap-terangnya. Tapi, jam 6 sore ke atas adalah waktu yang rawan karena aparat biasanya mulai tegas untuk membubarkan kerumunan, massa bisa jadi panik, dan visibilitas kalian turun. Pengalaman kemarin, di jam 5.30 sudah mulai ada penangkapan massa. Kalau dirasa cukup, pulang, jangan memaksakan diri.


9. Hindari Aksi Solo

Berdua Lebih Aman: Hindari Aksi Solo

Berdua lebih aman. Terlebih untuk pemula yang ngga ada pengalaman, sendirian di demo itu resikonya tinggi, karena situasi bisa berubah drastis kapan aja. Di tengah kerumunan demonstrasi bukan cuma resiko fisik aja, tapi juga bisa ganggu fokusmu ketika mengabadikan momen-momen yang krusial. Coba minimal ajak satu temen, apalagi kalo temennya berpengalaman, dia bisa ngawasin situasi dan juga nolongin kalian kalau kena apa-apa nantinya. Jangan lupa untuk saling berkabar ketika terpisah, apalagi sinyal internet yang sering jelek di lokasi demo.


Siap Jadi Fotografer Jurnalistik?

Dari pemahaman konteks untuk memperdalam emosi, sampai persiapan gear dan juga etika, semuanya penting untuk bikin karya yang lebih bermakna sekaligus juga jaga diri. Fotografi jurnalistik itu enggak cuma soal skill, tapi juga butuh keberanian yang besar dan tanggung jawab. Itu aja tips dari gue. Stay safe semua!


Bagaimana Cara Film Mengubah Hidupmu

Cara Film Merubah Hidup

Apa artinya ketika hidup dihadapkan dengan rutinitas yang sama? Terus-menerus, berturut-turut, berlarut-larut hingga jiwa mengalami mati rasa. Lalu apa yang mewarnai hari sehingga tercipta ruang supaya jiwa terus bertumbuh? Agar diri kembali merasakan hidup yang sesungguhnya. 

Seni, adalah jawabannya. Ia adalah luapan ekspresi dari seseorang yang diwujudkan melalui karya, salah satu bentuknya adalah film (movie).

Bahagia, sedih, marah, takut, terkejut, muak/jijik, cinta, benci, malu, bersalah, bangga, iri, cemburu, tenang, cemas, frustasi, rindu, harap, putus asa, syukur, kesepian, kagum, kecewa, lega, gugup, terharu, semangat, pasrah. Semua luapan emosi bisa dirasakan hanya dengan melihat sebuah film. 

Jika foto hanya mempunyai 1 frame, rata-rata frame pada sebuah film ada 24, ini yang membuatnya disebut "gambar bergerak". Film memiliki daya untuk membawa kita untuk masuk ke dalam dunia lain, lalu membawa kita pada sebuah perjalanan emosional yang akan terus diingat.

Masih inget nggak? Bagaimana film-film sederhana seperti Home Alone mewarnai masa kecil kalian? Betapa hangatnya momen itu sehingga masih bisa dirasakan sampai sekarang, membekas di hati sehingga bisa terus teringat. Tak lekang oleh waktu. 

Film memperindah masa-masa burukmu. Membuka referensi ke cakralawa tertinggi, di mana semua pengkarya: penulis, direktor, designer, voice acting, editor, semua bahu membahu untuk menyampaikan rasa, membuat sebuah cerita yang bisa dirasakan oleh semua orang. Mereka menciptakan dunia yang memberi kita kebebasan untuk merasakan, berpikir, bahkan melihat dunia ini dari perspektif yang berbeda.

Seni adalah perjalanan yang membuat kita menjadi lebih hidup, lebih terhubung dengan diri sendiri dan orang lain. Dalam setiap frame, dalam setiap dialog, ada ruang untuk bisa terus bertumbuh, untuk merasakan kembali kehidupan dengan segala kompleksitasnya.

Bagaimana Film Mengubah Hidupku

Cerita bagaimana film mengubah hidupku dimulai ketika dosen favoritku bertanya, "Siapa di sini yang suka nonton film?". Pada saat itu, entah kenapa di pikiranku, orang yang menonton film cuma orang yang buang-buang waktunya aja. Jadi, gue pura-pura ngga mengiyakan pertanyaan itu, dan cuma diem aja (padahal nonton film, tapi emang ngga sesering itu memang). Sampai akhirnya beliau menjelaskan bahwa menonton film itu.. (intinya positif) dan menyuruh kita semua untuk lebih sering menontonnya. Ngga lama setelahnya, kita ditugaskan untuk remake poster dari sebuah film yang disukai (jujur, ngga ada sama sekali film yang ada di pikiranku pada saat itu). Iya, jurusan kuliahku adalah DKV.

Kenapa pak Riqqoh ini bisa jadi dosen favoritku? There's just something different about him. Tipikal orang yang nggak cuma talk, tapi juga walk the talk. Selain dia juga suka dengan film, ketika mengajar, dia selalu memenuhi jam mengajarnya bagaimanapun caranya. Berbeda dengan dosen yang lain, yang ngga konsisten dengan jam mengajar mereka, let alone cara mereka mengajar yang membosankan.

Jadi, sama sekali ngga pernah ada yang namanya jam kosong, ketika pak Riqqoh mengajar. Di sela-sela mengajarnya, beliau juga selalu membagikan pelajaran hidup dari pengalaman hidupnya, contohnya ketika dia sedang solo traveling ke Bali. Beliau juga menerapkan ilmu mengajarnya ke pekerjaannya. Menurutku ini adalah definisi guru yang sebenarnya. Bukan hanya ngobrol tentang Design Logo, tapi beliau juga memang bekerja sebagai Logo Designer di tengah kesibukannya mengajar. 

Momen ini selalu nyantol di kepala gua, "Apakah ini efek dari menonton sebuah film?", Ini adalah contoh orang-orang yang ingin gue ikuti. Cinephile. Entah kenapa gue terlalu sering melihat pola di mana anak-anak film itu juga suka travel, dan asik aja gitu orangnya, referensinya layak untuk diikuti. Karena mereka punya banyak sudut pandang dalam melihat suatu hal.


Efek dari Menonton Film

Setelah momen di atas, gue jadi cukup sering untuk menonton film, perlahan melebarkan referensi dan menemukan banyaknya cerita menakjubkan, serta sutradara dan aktor/aktris yang kusukai, dan mengambil referensi dari mereka. 

Orang-orang ngga sadar, seberapa besar influence dari menonton sebuah film. Gue ngga tau ya, apakah hal ini juga terjadi ke kalian. Tapi efek dari menonton film tuh segede itu influence-nya. Gua jadi suka mobil gara-gara abis nontonin Kind of Kindness, padahal ceritanya it's not even about the car, dan juga gua ngikutin olahraga tennis gara-gara abis nontonin Challengers.

Film tuh sengaruh itu dalam meng-influence kita. Kayak menyalakan api referensi dalam diri gitu, loh. Jadi penasaran aja akan sesuatu dan membuka dunia baru. Referensi baru yang belum pernah dilihat.


Bagaimana Cara Film Mengubah Hidupmu

Keistimewaan film itu terletak pada kemampuannya merangkum sebuah cerita, dimulai dan diakhiri pada saat itu juga dalam durasi 1-3 jam. Dari opening scene sampai credit roll, dirancang untuk menyampaikan journey yang padat: konflik, resolusi, dan pelajaran hidup bisa didapat hanya dalam satu putaran. 

Karena singkatnya, film memaksa kita untuk fokus pada esensi: setiap adegan, dialog, dan karakternya punya tujuan yang jelas untuk membangun pesan akhir. Di sinilah letak "edukasi"-nya. Bukan hanya sekedar tontonan, tapi juga refleksi tentang manusia, nilai, atau bahkan paradoks kehidupan yang bisa kita petik yang bisa selesai hanya dalam sekali duduk dan meninggalkan ruang untuk ditafsir ulang. 

Dari sini bisa bayangkan akan "sekaya" apa diri ini nantinya? Ini adalah alasan kenapa kamu harus mulai nonton film:

Perspektif yang Membuka Mata

Ketika menonton film, kita menyelami sudut pandang dari berbagai karakter dengan kompleksitas masalahnya. Seperti mencoba memakai kacamata orang lain: kita merasakan dilema, ketakutan, atau ambisi yang mungkin asing bagi kita. Semakin sering menonton film beragam genre, cakupan perspektif kita melebar. Ibarat mendaki menara observasi: setiap film yang ditonton adalah anak tangga yang membawa kita lebih tinggi, melihat dunia dari sudut yang lebih luas. Bukan hanya hitam-putih, tapi juga nuansa abu-abu di antaranya. 

Mengasah Kemampuan, Menyelesaikan Masalah

Karena sebuah film dibuat atas keresahan sutradara atau penulisnya yang mencoba memberitahu penyelesaian masalah lewat film. Jadi film ini secara ngga langsung bikin kita terpapar dengan banyaknya masalah yang dialami oleh karakter utama, karena setiap konflik yang dihadapi karakter adalah latihan problem solving bagi penonton. Kita diajak menganalisis, memprediksi, dan "merasakan" solusi melalui sudut pandang cerita. Keresahan sutradara/penulis sering kali dijawab melalui alur cerita. Ending film bukan sekadar penutup, tapi blueprint cara mereka memecahkan masalah dan kita menyerap pola ini secara tak langsung.

Semakin sering menonton, semakin banyak case study mental yang terkumpul. Kita ngga sadar telah belajar dari kegagalan karakter, mengadopsi logika sutradara, dan mengumpulkan "toolkit" solusi yang siap dipakai saat menghadapi masalah riil. Otak belajar merumuskan solusi dari beragam skenario, lalu mengaplikasikannya ke masalah sehari-hari, lama-kelamaan jago untuk mecahin masalah. 

Membentuk Pola Pikir yang Lebih Tajam

Karena sudut pandang dan problem solving-nya makin jago, maka hal ini jelas mengasah pola pikir. 

Film mempengaruhi pola pikir dengan menggabungkan elemen visual, audio, dan narasi yang langsung berbicara ke emosi dan logika kita. 

Pola pikir ini ibarat pondasi terhadap bagaimana cara kita mereaksi terhadap hal-hal tertentu. Karena pola pikir adalah kumpulan keyakinan, nilai, dan sikap yang mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku. 

Pola pikir menggerakkan cara kita memandang dunia, mengambil keputusan, dan bagaimana kita merespon sebuah masalah.

Film, sebagai medium yang padat konflik dan perspektif, bertindak seperti gym untuk melatih mental dan mengubah pola pikir dari yang tadinya sekedar reaksi insting sesaat menjadi respon yang terasah. 

Akumulasi dari reaksi kita sehari-hari terhadap sesuatu, ya, dari sini asalnya. "Life is 10% what happens to you and 90% how you react to it" -Charles R. Swindoll

Melatih Imajinasi dan Kreativitas

Cerita fiksi atau visual yang kuat, seperti di film fantasi atau sci-fi, bisa memperluas cara kita berpikir tentang kemungkinan. Ini mendorong otak untuk berpikir di luar kotak dan membayangkan solusi atau dunia baru. Maka, hal ini akan merangsang imajinasi dan kreativitas.

Kreativitasmu akan jauh lebih baik, karena terbiasa melihat shot-shot cantik. "Taste" ini tidak instan, tapi terbangun lewat paparan terus-menerus, seperti musisi yang terlatih mendengar nada sumbang. Nanti mata akan terbiasa dengan "rule of third", salah satu komposisi dalam fotografi yang membuat scene begitu menarik. Minim ngambil gambar jadi ngga asal-asalan, deh. 

Kreativitas ini aplikasinya nanti juga akan ke rasa, taste, ini ngga bisa secara langsung didapatkan, butuh terpapar terus menerus nanti taste akan terbuild secara perlahan. Atau bahkan karena banyak menganalisa sebuah cerita, ini juga bisa diaplikasikan ke kreativitas dalam menyelesaikan sebuah masalah. Misalnya, penyelesaian pada sebuah masalah ngga hanya dengan 1 cara, tapi banyak cara. Memang hasil dari 3 ditambah 3 adalah 6, tapi juga bisa 5 ditambah 1, atau 2 ditambah 4.

Membangun Empati Melalui Cerita

Film sering nempatin kita di posisi karakter yang jauh berbeda dari kita, entah dari latar belakang, budaya, atau pengalaman hidup. Misalnya, nontonin film tentang perjuangan bisa membuat kita lebih peka terhadap isu sosial atau memahami sudut pandang yang sebelumnya asing.

Atau kadang, ketika ada karakter yang kita sukai dalam sebuah film, lalu kita mencoba untuk menempatkan diri sebagai karakternya. Dari sini merasakan diri terhanyut karena keadaan dan pikiran ada di posisi yang sama dan akhirnya mempunyai rasa yang sama. Relevansi dan proyeksi diri. 

Empati itu rasa dan daya untuk memahami dan merasakan apa yang dialami oleh orang lain, tapi dari sudut pandang kita. Bayangin gue yang bahkan jarang nangis walaupun di film-film sedih sekalipun karena tau pattern-nya malah ketika nonton Ford vs Ferrari nangis. Mana film otomotif lagi. Film balap tapi bikin nangis coba, siapa sangka?

Semakin sering menonton, semakin banyak studi kasus mental yang terkumpul. Karena dari berbagai banyaknya manusia di bumi, mana yang paling merasa tersakiti? 

Melatih Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional (EQ) itu bagian terpenting dari pengembangan karakter seseorang. Karena EQ berkaitan dengan perasaan, ia menentukan kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi diri sendiri dan orang lain di sekitarnya. Dalam kehidupan nyata, pengaplikasian EQ bisa dibilang lebih dominan dibandingkan IQ.

Empati, sebenarnya, adalah salah satu komponen dari EQ. Empati adalah kemampuan untuk "merasakan" apa yang dialami orang lain atau karakter. Seseorang dengan EQ tinggi mampu memahami emosi karakter tanpa harus mengalami situasi yang sama persis. Dalam dunia nyata, orang dengan EQ tinggi cenderung tidak reaktif setelah menyaksikan adegan emosional, melainkan reflektif, mereka akan bertanya pada diri sendiri, "Apa yang saya rasakan? Mengapa? Bagaimana ini terkait dengan hidup saya?"

Film berperan sebagai "simulator" untuk melatih respons emosional sebelum kita menghadapi situasi serupa di kehidupan nyata. Respons kita terhadap film selalu subjektif. Ada yang menangis, marah, atau acuh, sementara yang lain merasa kisahnya "nyambung" dengan pengalaman hidup mereka. Ini terjadi karena pengalaman hidup kita melebur dengan cerita di layar. Setiap adegan diproses melalui "filter" emosi, memori, dan nilai yang telah terbentuk sepanjang hidup. Misalnya, adegan kehilangan akan terasa jauh lebih menyayat bagi seseorang yang pernah mengalami duka serupa. Di sini, film bukan sekadar tontonan, melainkan cermin untuk refleksi diri.

Latihan Fokus, Membangun Attention

Di samping itu, rentang perhatian (attention span) manusia semakin menipis akibat pengaruh video berdurasi pendek (short-form video). Ketidakmampuan untuk tetap fokus dan kesulitan berkonsentrasi menjadi efek yang muncul. Menonton film dapat menjadi latihan untuk meningkatkan kemampuan fokus dalam jangka waktu tertentu, mengingat durasi rata-rata film berkisar antara 1 hingga 3 jam. Selain sebagai sarana untuk memperdalam rasa, ini juga berfungsi sebagai latihan untuk mempertahankan perhatian pada satu hal.


Referensi Adalah Kunci


Ingat, ini bukan masalah seberapa banyak film yang ditonton, tapi bagaimana kita memilih film untuk memahami sebuah masalah. Film-film berkualitas menjadi referensi perspektif yang akan memperkaya cara berpikir dan faktor-faktor di atas. Misalnya, film tentang ketidakadilan sosial mengajarkan empati, sementara kisah survival mengasah keteguhan. Tantangannya adalah: curate what you consume. Pilih film yang menantang bias, membuka wawasan, atau mengajak kita melihat dari kaca mata yang nggak biasa. Contohnya: 12 Angry Men

Pengaruh bagaimana menonton film bisa mengubah hidup juga tergantung pada individu. Kalau kita cuma nonton untuk hiburan tanpa memikirkannya lebih jauh, efeknya mungkin minim. Tapi kalau kita reflektif, misalnya, membahas film itu dengan temen atau merenung sendiri, dampaknya bisa jauh lebih besar. Pernah nggak sih kalian merasa cara berpikirnya berubah setelah menonton film tertentu?

Saranku buat akun Letterboxd, dan jelajahi Top 250 Narrative Feature Films. You are in the right path. 

Setelahnya, belajar analisa film-nya, yang kecil-kecil aja dulu, dimulai dari siapa aktor utamanya? Tujuannya apa? Masalahnya apa? Bagaimana cara dari menyelesaikan masalahnya? Core message dari sutradaranya apa?


Pesan Terakhir..

Ngga hanya 7 faktor di atas, menonton film juga memperkaya rasa, memperluas referensi, meningkatkan kesadaran diri (awareness), memberikan inspirasi, dan juga pengembangan diri (self-improvement) yang otomatis juga akan meningkat. Jadi manfaat dari menonton film bener-bener ngga bisa diremehkan. Karena ini sangat krusial dalam perkembangan karakter seseorang, sehingga kamu bisa mengenal diri jauh lebih dalam lagi

Bayangkan,  di luar sana, ada cerita atau perspektif  yang unik dari berbagai planet yang luar biasa indah, menunggu untuk dikunjungi. Ayo, ubah hidupmu dengan menonton film! Untuk memulai perjalanan ini, langsung buat akun Letterboxd, anggap aja seperti buku harian pribadi.

Sampai sekarang di setiap ulang tahunku, gue selalu menyempatkan diri untuk menonton film di bioskop. Ini semacam ritual kecilku untuk memberikan penghargaan pada diri sendiri di tahun itu. Sederhana, namun selalu bermakna. Contohnya kemarin di 2024, ada 1 keluarga duduk di belakangku, ada 2 anak kecil tertawa lepas sampai mereka menendang-nendang kursiku. Tapi entah kenapa, aku malah seneng, bisa ada di momen itu, rasanya seperti bagian dari keluarga itu dan merasakan betapa hangatnya keluarga ini.

Inilah cerita bagaimana film bisa merubah hidupku. Rasanya beruntung banget karena masa kecilku juga diwarnai dengan film-film yang tayang di TV. Seperti Kung Fu Hustle, Karate Kid, Home Alone dan masih banyak film heart-warming yang menginspirasi pola pikirku sekarang dan masih membekas di ingatan dan hati. Gue bahkan bikin list film-film masa kecilku dan semuanya ku-recall dengan mudah! Film-film bagus ngga akan ada habisnya. Ngga sabar banget untuk menghabiskan semuanya!!!

Alasanku Cinta Dengan Jepang

Alasanku Cinta Dengan Jepang


Berhubung di artikel Makna gue tiba-tiba ngomongin Jepang, keknya asik kali, ya, dibikinin artikel versi panjangnya. Let's go! 

Jepang aromanya memang candu, ya, selalu jadi magnet untuk banyak orang. Harum aja gitu brandingannya. Mau dari makanannya, teknologi, maupun dunia hiburannya seperti anime dan game, negeri ini seolah ngga pernah kehabisan daya tariknya. Coba liat aja di short-form video, setiap ada konten tentang Jepang, komentarnya, "Japan live in 2050", "Commenting so I can stay on Japantok", "My only dream is to live on Japan" dan komentar "all hail Japan" lainnya.

Alasanku Suka Cinta Dengan Jepang

Mungkin, kebanyakan orang ketika ditanya, "Kenapa Jepang?" jawabannya, karena suka dengan makanan, tempat wisata, anime, dunia hiburan, atau bahkan design dan budayanya. Tapi entah kenapa, yang menjadi daya tarik dan fokusku selalu kepada sumber daya manusianya a.k.a the people itself. Yap, manusianya, orang-orangnya. Ini yang membuat suka-ku berubah menjadi cinta.

Ketika diperhatikan lebih dekat lagi, Aku sungguh mengagumi bagaimana orang-orang Jepang selalu mempunyai makna yang dalam terhadap setiap kegiatan mereka. Menurutku inilah yang membuat negara mereka dikenang dan berkesan di setiap masakan, tempat wisata, dan aspek industri lainnya. Karena core-nya akan tetap pada orang-orangnya.

Orang Jepang ngga setengah-setengah dalam bekerja, mereka selalu melakukan yang terbaik. Filosofi "ikigai" (alasan hidup) dan "kaizen" (perbaikan berkelanjutan) mengalir dalam darah mereka. Ini keliatan banget dari pembawaan dan aura mereka.

Dan jangan lupakan tentang dedikasi penuh terhadap bidang yang mereka tekuni. Di restoran sushi, seorang itamae (koki) bisa ngabisin puluhan tahun hanya untuk menguasai teknik memotong ikan. Di pabrik Toyota, setiap karyawan diberi hak menghentikan produksi jika melihat cacat dalam produksi, ini adalah sebuah simbol kepercayaan terhadap kualitas. Ini bukan sekadar profesionalisme, tapi penghormatan terhadap proses.

Kebetulan, belakangan ini sedang mengikuti series YouTube-nya Ludwig. Kalo kalian mau tau orang Jepang aslinya seperti apa, coba deh kalian liat ketika Ludwig dan Michael Reeves travel across Japan, bener-bener dari ujung ke ujung, hanya menggunakan motor, tanpa smartphone, dan map. Kalian bisa lihat betapa murni interaksinya dengan orang-orang Jepang yang mereka temui. Orang-orangnya betul-betul super duper helpful, ramah, dan juga penuh semangat.


Kenapa Sumber Daya Manusia Jepang Istimewa?

Ingat ketika bom atom menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945? Jepang tidak membangun kembali gedung-gedungnya terlebih dahulu. Prioritas pertama mereka? Mengumpulkan guru-guru yang tersisa untuk segera memulihkan sistem pendidikannya. Mereka paham: regenerasi pengetahuan adalah kunci kebangkitan. Hasilnya? Dalam 20 tahun aja, Jepang menjelma menjadi raksasa ekonomi dengan inovasinya yang mengubah dunia, dari Sony hingga Shinkansen (kereta peluru). 

Dalam dua dekade itu, Jepang berhasil bangkit dari kehancuran menjadi negara industri modern, membuka jalan bagi keajaiban ekonominya di tahun 1970-an dan 1980-an.

Jadi, ini bukan sekadar estetika atau kemajuan, Jepang mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah peradaban bermula dari cara berpikir manusianya.

Jepang dan Maknanya

Kalian sadar ngga? Arti makna di sana tuh it's on another level. Mereka mengaplikasikannya dengan baik ke seluruh aspek kehidupan mereka. Sadar ngga? Yang betulan to the core. Coba, deh, perhatikan:

  • Makanannya? Ngga cuma sehat, tapi juga enak! Makanan mereka juga kebanyakan mentah, kan., yang mana itu baik untuk mempertahankan nilai gizi aslinya. Inilah kenapa orang-orang di sana berumur panjang. Bahkan harapan hidup mereka ada di umur 85 tahun! 
  • Tempat-tempatnya? Selain aman, juga nyaman. 
  • Ke mana-mananya? Transportasi ffektif dan tepat waktu. 
  • Film-filmnya? Deep parah! Liat karya-karyanya Hirokazu Koreeda, Hayao Miyazaki di dunia animasi, Akira Kurosawa, dan masih banyak lainnya. 
  • Bahkan di game, ada juga Hidetaka Miyazaki dengan Soul-game-nya, yang mana kalian harus mengalahkan bos sampai mati beribu kali baru bisa melewatinya. Dikarenakan tingkat kesusahannya yang gila. Mereka ga mau memanjakan player-nya, dengan perjuanganlah, achievement itu baru bisa dirasakan, bahkan sampai ke ulu hati.
  • Design produk makanannya? Apalagi. Sangat dimudahkan ketika mencoba membuka kemasannya atau ketika digunakan. Coba aja liat betapa asyik detail dari design produk makanannya, semuanya ada purpose. Bahkan display makanannya aja haruslah sama persis dengan yang dijual. Jadi bakal tau, tuh, besar/kecil snack-nya, tanpa membuka, cukup liat display-nya.
  • Teknologi? Coba liat aja berapa banyak tombol yang ada pada sebuah toilet.
Literally, makna to the core, inilah kenapa segala aspek kehidupan mereka menjadi yang terbaik. Karena diisi oleh orang-orang yang memegang makna seperti ini! 

Makna Terdalam

Kalian pernah dengar yang namanya Harakiri? Di tradisi Jepang ada yang namanya Seppuku, biasanya di luar Jepang dikenal dengan sebutan Harakiri. 

Seppuku: Harga Diri di Atas Nyawa
Ritual bunuh diri seppuku (harakiri) oleh samurai mungkin terbilang kejam, tapi ini mencerminkan konsep "meiyo" (kehormatan) yang lebih berharga daripada hidup itu sendiri.

Ritual ini dilakukan oleh samurai sebagai bentuk pemulihan kehormatan setelah kegagalannya menjalankan tugas, melakukan kesalahan fatal, kesalahan untuk kepentingan rakyat atau melanggar kode bushido (jalan kesatria). Dengan merobek perut dan mengeluarkan usus, mereka "membuktikan" kesungguhan permintaan maaf dan kesetiaan mereka pada klan atau negara.

Mengapa Perut?
Dalam budaya Jepang, perut (hara) dianggap sebagai pusat jiwa, emosi, dan integritas.
Tindakan menyakiti area ini diyakini menunjukkan kejujuran absolut. Bahwa niat mereka murni, bukan sekedar pencitraan.

Konteks sosial, ini bukan hanya untuk diri sendiri, tindakan ini tidak sekadar "bunuh diri", tapi pertanggungjawaban publik. Dengan mati secara terhormat, samurai melindungi nama keluarga, klan, atau atasan dari aib.

Coba deh nonton Shogun (2024) dan Harakiri (1962), rasanya seperti ditusuk jarum kecil sebanyak-banyaknya. Kedua film ini menyampaikan budaya Jepang sampai ke ulu hati. Definisi memahami budaya Jepang di level terdalam. 

Makna di Setiap Detail

Kadang tuh gua diem-diem terus memikirkan dan bertanya-tanya hal-hal kecil, kenapa, ya? Jepang gini dan blablabla...  

Contohnya, nih ya.. 

Kenapa ada ikan koi di selokan Jepang? "Oh, supaya orang-orangnya jadi punya strong reason kenapa jangan buang sampah ke sana."

Kenapa ngga ada tempat sampah di Jepang? "Bener juga, ya, selain ngga ada polusi dan bau yang tidak sedap, orang-orang jadi punya rasa tanggung jawab terhadap sampah yang dibawanya."

Bahkan cara mereka berbicara pun dirancang untuk tidak bisa diinterupsi karena struktur bahasanya (Subjek-Objek-Verb) yang mengharuskan pendengar menunggu sampai akhir kalimat untuk memahami maksudnya. Karena bagian pentingnya ada di bagian belakang kalimat. Gila ngga?! Bahkan struktur bahasanya "di-design" supaya tidak bisa memotong pembicaraan.

Struktur Pola Kalimat Jepang


Kenapa makanannya kebanyakan mentah? Karena untuk mempertahankan nilai gizi dari makanan itu sendiri. Karena kan semakin minim makanan melalui proses olahan atau diolah, maka nilai gizinya akan tetap terjaga dan asli. Hasilnya, umur mereka panjang-panjang!

Kenapa banyak orang yang sudah tua tapi masih bekerja? Ya, karena itu satu-satunya makna dan tujuan dalam hidupnya. Justru ini yang membuat mereka hidup, "bensin" hidup mereka.

Mereka (orang Jepang) yang memilih untuk .... (tau lah ya), itu juga karena mereka ngga punya tujuan dan makna hidup.


Random Talk About Japan

Tapi, kadang gue kalo ngeliatin foto-foto Jepang tuh, ya, rasanya kayak mereka punya preset colour mereka sendiri. Ada ciri khas vibes, mood tone tertentu di langit serta udaranya. Jadi bisa tau aja gitu walaupun foto random place bisa ketebak, "Oh, ini Jepang!". Seakan mereka punya default preset Lightroom. Mahal memang.

Kadang, tuh, gue mikir bahwasannya Jepang ini adalah pulau legenda yang akan punah. Udahlah wilayahnya masuk Cincin Api Pasifik, jadinya dikelilingi dengan gunung berapi aktif. Ditambah birth rate yang semakin menurun per tahunnya. Aih, beneran punah, nih?

Tapi, kuakuin budaya Jepang itu terlalu Aesthethic. Cantik dan kental banget. Kadang aku berandai-andai, gimana, ya, kalo Jepang mayoritasnya beragama Islam? Birth rate udah bukan lagi problem, tuh. Ke mana-mananya pasti rame dah tuh hahaha. Kasian banget yang di desa-desa sampe pada pindah ke Kota. Sementara di kota besar seperti Tokyo tau sendiri biaya hidup mahal, ya, gimana mau punya anak, tjuy. Hadeh..

Sampai sejauh ini bisa, ya, mengerti kenapa aku cinta dengan Jepang? Karena ia bukan hanya destinasi, tapi juga pelajaran hidup. Bagaimana dedikasi, makna, dan kehormatan bisa membentuk peradaban yang menginspirasi dunia. Siapkah kita menyerap filosofinya? Filosofi hidup yang terwujud dalam setiap detail. Jepang mengajarkan kita bahwa kemajuan sejati bermula dari pola pikir dan integritas manusianya.