Demo di Grahadi Surabaya: Emosi & Pelangi dalam Bidikanku

Ini adalah pengalaman pertamaku menjadi jurnalis fotografer di Gedung Grahadi Surabaya pada tanggal 24 Maret 2025. Demonstrasi (unjuk rasa) di Surabaya kali ini digelar untuk menolak pengesahan UU TNI, yang dianggap dapat mengembalikan peran militer ke dalam ranah sipil, ini mengingatkan kita pada era dwifungsi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) di masa Orde Baru. Dwifungsi ABRI memungkinkan militer ngga hanya berperan sebagai kekuatan pertahanan, tapi juga terlibat dalam politik dan pemerintahan, yang oleh banyak pihak dianggap membatasi supremasi sipil dan demokrasi.

Jadi, demonstrasi ini lahir dari keresahan masyarakat terhadap potensi ancaman demokrasi, supremasi sipil, dan kebebasan individu akibat perubahan regulasi yang menguntungkan institusi militer dan kepolisian. Gerakan ini cerminan semangat perlawanan digital yang ingin memastikan suara rakyat didengar di tengah proses legislasi yang kontroversial.


fotografer-demonstrasi-surabaya-2025
Gedung Negara Grahadi - Surabaya, 24 Maret 2025

Mendapat info H-1 melalui x.com, bisa dibilang ini adalah kali pertamaku mengikuti aksi demonstrasi secara langsung. Sebagai seorang fotografer, tentu momen ini adalah lautan emosi yang ngga bisa kulewatkan begitu saja, dan juga ini mungkin akan jadi satu-satunya timing yang pas dalam waktu dekat ini untukku. 

Menggunakan dresscode hitam, kamera dengan lensa 35mm, serta topi dan tanpa mask apa pun (sengaja). Ini adalah cerita, perspektif dari seorang fotografer dan sekaligus warga sipil serta kesan pertamaku mengikuti aksi demonstrasi untuk pertama kalinya. Kata pertama yang akan kuucapkan adalah. Jujur. Seru, dan penuh adrenalin. Bisa menangkap lautan ekspresi sebanyak ini adalah mimpi bagi seorang fotografer. 

Awalnya kukira semua akan adem ayem aja, karena dari yang terlihat, kita memang datang secara tertib di depan Gedung Grahadi Surabaya. Ada yang membakar ban di tengah sebagai simbol, tapi suasananya masih terkendali. Bahkan ketika orasi diadakan, kami bahkan diminta duduk, jadi semuanya terasa santai.

Lucunya ada sekitar 5 orang yang kukenal dari demonstrasi penolakan UU TNI di Surabaya kemarin, di antaranya senior ketika Kuliah dan beberapa teman SMP dan SMA, walaupun mereka menggunakan topi dan penutup mulut, api semangat mereka masih sama seperti yang kukenal dulu. Sampai tiba-tiba.. suasana berubah secara drastis menjadi tegang ketika salah seorang dari aksi massa melempar batu ke arah Polisi yang berjaga. Perlahan semua berubah menjadi suara yang terdengar, seolah ini adalah cara satu-satunya.

Seketika aksi massa mundur mengamankan diri. Setelahnya, mereka maju secara perlahan dan menarik pagar kawat berduri itu, dan jauh di sebrang sana sudah ada yang betul-betul berhadapan langsung dengan Polisi yang berseragam lengkap, sementara dia bertangan kosong.


Jujur sebagai warga sipil gue kagum dengan api semangat mereka. Di sisi lain gue kagok sebagai seorang fotografer, kek.. gimana caranya gue positioning dengan keadaan semasif ini, woi?! Sedangkan gue sendiri make lensa fix 35mm yang mana objek/subjeknya haruslah dekat yang ditujukan untuk menangkap emosi, dan harus terus bergerak supaya dapat angle yang bervariasi. Sementara itu di sisi lain, otakku terus berteriak, "Subjeknya di sana, woi, Bil! Maju!". Permasalahannya adalah, water cannon, pak. Ini kamera sudah jelas bukan anti air. Sekali kena habis sudah. Ini dia tricky-nya menjadi Fotografer Demonstrasi / Jurnalistik. Pilihan lensa yang fleksibel, menjaga jarak aman, proteksi kamera, dan kepekaan terhadap sekitar dan juga diri amat sangat penting di situasi seperti ini. 

Pelangi di Tengah Demonstrasi: Simbol Harapan
Ini adalah momen favoritku ketika demo kemarin. Ada pelangi di tengah perjuangan. Sungguh poetic. 

pelangi-demonstrasi-grahadi

Selalu ingat bahwa ini adalah cara mereka menyuarakan apa yang tak didengar. Kalian paham, kan? Bahkan orang-orang yang demo di depan Gedung DPR-nya langsung aja itu ngga kedengeran sama sekali suaranya dari dalam gedungnya. Ini fakta, berdasarkan pengakuan dari salah satu peserta yang sedang magang di sana.

Di negeri ini, kadang cuma gini cara biar suara sampe. Karena sudah berkali-kali, diwanti-wanti dan lagi-lagi dikecewakan karena tak didengar, terlebih dengan pengesahannya yang begitu cepat dan tidak transparan. Apa urgensinya? Ini sudah jelas salah satu sifat dari undang-undang yang ngga masuk akal. Disahkannya begitu cepat, terlebih dengan draft-nya yang tidak jelas. 

Terakhir, sebaik-baiknya perjuangan adalah mereka yang paham dan mengerti akan isu apa yang diperjuangkan. Don't be a rebel without a clue.

Kembali lagi, kita semua adalah manusia dengan berbagai komplikasinya. Oleh karena itu mari menyelami perspektif ke dasar emosi terdalam dari semua yang terlibat pada aksi demonstrasi kali ini. Gedung Negara Grahadi - Surabaya, 24 Maret 2025.









Dari balik lensa, gue belajar bahwa unjuk rasa adalah bentuk kepedulian warga. Mereka berjuang bukan untuk kekacauan, tapi agar suara mereka terdengar oleh mereka yang seringkali tuli. Sampai jumpa di aksi berikutnya!